27 Juli 2013

Medley Penasaran

Pernahkan anda penasaran dengan judul sebuah lagu? Ini merupakan kisah "pencarian" judul lagu yang pernah saya dengar "beberapa" tahun yang lalu, tepatnya tahun 1967. Jaman tersebut -- belum ada MTV -- bahkan "kaset" masih belum populer. Lagu dapat didengar melalui radio, piringan hitam, atau "reel tape".
Ini namanya REEL TAPE
Yang saya ingat ialah lagu tersebut sepertinya merupakan medley instrumentalia dengan menggunakan akordian. Karena bagian tengah lagu berbeda sekali dengan bagian awal dan akhir, saya perkirakan merupakan sebuah medley. Hingga 2013 ini, tidak pernah ketahuan judulnya!

Sambil menunggu buka puasa di suatu sore Ramadan 1434 ini, saya menyempatkan diri untuk menelusuri medley tersebut melalui YouTube. Yang disimak ialah "Reflections Of 1965 - 1969" berisi 500 potongan lagu (total 135 menit). Karena berupa lagu, kegiatan ini dapat dilakukan secara paralel dengan kegiatan lainnya.

Ciluk Ba! Akhirnya ketahuan bahwa yang ditengah medley merupakan lagu "These Boots are Made for Walking" yang dipopulerkan oleh Nancy Sinatra pada tahun 1966. Sayang sekali, melalui Google tidak ditemukan medley yang cocok.  Namun kemudian, ditemukan bahwa bagian awal dan akhir dari medley dinyanyikan oleh SSgt. Barry Sadler dengan judul "The Ballad of the Green Berets" (1966).

Gabungan dari kedua lagu tersebut, ternyata dibawakan dengan akordian oleh Albert Vossen (1910 - 1971). Versi Jerman dari lagu tersebut ialah "Hundert Mann und ein Befehl" dan "Die Stiefel sind zum Wandern"

Jika tertarik, silakan mendengarkan sendiri lagunya melalui YouTube: http://www.youtube.com/watch?v=d0PD0xTGDCc

Grrr... memo blog ini terutama ditulis untuk KEPERLUAN SENDIRI. Semoga catatan ini akan bermanfaat di masa mendatang, saat sudah lupa cara menyelesaikan masalah trivia ini. Tulisan ini berbasis "Google Sana, Google Sini, Coba Itu, Coba Ini, Lalu Tanya-tanyi". Entah ini PLAGIAT, entah ini RISET, yang jelas tidak pernah ada klaim bahwa ini merupakan karya asli, dan belum tentu pula merupakan solusi terbaik :).



25 Juli 2013

Menghilangkan karakter aneh pada berkas

Walaupun GNU/Linux dapat mengenal nama berkas dengan karakter aneh-aneh, hal tersebut dapat mengganggu bagi pengguna "command line". Untuk itu, berikut sebuah script sederhana yang mengganti karakter-karakter aneh seperti [] (),?*#" menjadi dash "-". Jika ingin menghilangkan karakter lain, silakan modifikasi bagian "gsub()".

Selain itu, mode berkas menjadi 644 dan mode direktori menjadi 755. Script bernama "fixfs" ini menggunakan bash, ls, dan gawk.

#!/bin/bash
# $Id: fixfs 606 2013-08-29 07:29:51Z rmssvn $
# svn propset svn:keywords "Date Revision HeadURL Id Author" fixfs
# fixfs: fixing filesistems' name and mode

# Add escape \"
# Replacing all funny and white characters with a dash (-).
# Replacing multiple dashes (---) with a single dash (-)
# No dash before a dot.

ls -1 | gawk '{
   FNAME1=$0
   gsub (/\"/,"\\\"",FNAME1)
   FNAME2=FNAME1
   NCHG=0
   NCHG += gsub (/\\\"/,"-",FNAME2)
   NCHG += gsub (/\x27/,"-",FNAME2)
   NCHG += gsub (/[ (),\[\]\?\*\#]/,"-",FNAME2)
   NCHG += gsub (/--+/,"-",FNAME2)
   NCHG += gsub (/-\./,".",FNAME2)
   NCHG += gsub (/^-/,"",FNAME2)
   if (NCHG > 0) {
      system("/bin/mv \""  FNAME1  "\" " FNAME2)
   }
}'

# chmod 755 for all directories
# chmod 644 for all files
for ii in `ls` ; do
   [ -d $ii ] && {
      chmod 755 $ii
      cd $ii
      # Recursive inside the DIR
      fixfs
      cd ..
   }
   [ -f $ii ] && chmod 644 $ii
done

exit 0

# fixfs: fixing file systems' name and mode
# $Revision: 606 $
# $Date: 2013-08-29 14:29:51 +0700 (Thu, 29 Aug 2013) $
# Copyright (C) 2013 Rahmat M. Samik-Ibrahim
# http://RahmatM.Samik-Ibrahim.vLSM.org/

Grrr... memo blog ini terutama ditulis untuk KEPERLUAN SENDIRI. Semoga catatan ini akan bermanfaat di masa mendatang, saat sudah lupa cara menyelesaikan masalah trivia ini. Tulisan ini berbasis "Google Sana, Google Sini, Coba Itu, Coba Ini, Lalu Tanya-tanyi". Entah ini PLAGIAT, entah ini RISET, yang jelas tidak pernah ada klaim bahwa ini merupakan karya asli, dan belum tentu pula merupakan solusi terbaik :).



Nilai 10 Perangkat Lunak Bebas

Jack Wallen mengungkapkan nilai dari 10 perangkat lunak bebas yang layaknya diberi lebih daripada sekedar "donasi":
  1. Ubuntu -- Sistem Operasi -- US$ 10 - 25 per rilis (6 bulan)
  2. LibreOffice -- Office Suite -- US$ 50 - 100
  3. Audacity -- Audio Editor -- US$ 50 - 100
  4. OpenShot -- Video Editor -- US$ 60
  5. Clementine -- Music Player -- US$ 25
  6. GIMP -- Image Editor -- US$ 75 - 100
  7. PhpMyAdmin -- PHP Administrator -- US$ 10 - 25
  8. Apache -- Web Server -- US$ 100
  9. GnuCash -- Accounting -- US$ 100
  10. Thunderbird -- -- US$ 25 - 50

Rujukan

Grrr... memo blog ini terutama ditulis untuk KEPERLUAN SENDIRI. Semoga catatan ini akan bermanfaat di masa mendatang, saat sudah lupa cara menyelesaikan masalah trivia ini. Tulisan ini berbasis "Google Sana, Google Sini, Coba Itu, Coba Ini, Lalu Tanya-tanyi". Entah ini PLAGIAT, entah ini RISET, yang jelas tidak pernah ada klaim bahwa ini merupakan karya asli, dan belum tentu pula merupakan solusi terbaik :).



15 Juli 2013

"BABE" Edwin Prijanto (1969-93)

untuk pembesaran, silakan klik foto di atas
Salah satu ruangan Laboratorium di lantai satu gedung A - Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) UI bernama "Lab Babe". Sayang sekali, tidak banyak yang faham (dan perduli) dengan siapakah sebenarnya "Babe" tersebut. Nama tersebut untuk mengenang salah satu alumni Fasilkom angkatan 1988 bernama Edwin Prijanto (25 Agustus 1969 - 9 Mei 1993).

Berikut merupakan tulisan-tulisan yang pernah dihimpunan dalam rangka mengenang 10 tahun almarhum meninggal (3 Mei 2003). Jika anda pernah mengenal "Babe" -- kami persilakan untuk memberikan kata tambahan di bahwa ini (komentar).

Betty P Silalahi

Rekan-rekan sekalian,

Mari kita tundukkan kepala, mengingat wafatnya "Babe" Edwin Prijanto' 88 tepat 10 tahun yang lalu di Purwakarta, dan dimakamkan di Bogor.

Untuk kaum muda yang belum sempat mengenal Babe, berikut sekelumit cerita tentang almarhum. Edwin lahir 25 Agustus 1969. Dipanggil Babe karena aura kebapakan memancar kuat dari dirinya. Selain itu tubuhnya gemuk spt bapak-bapak. Sehingga tidak heran dalam MK 1988, kami dengan kompak memilih Babe sebagai ketua angkatan.

Almarhum adalah anak tunggal. Kisah tragis terjadi ketika Edwin masih dalam kandungan. Ayahnya (almarhum Botjah Prijanto) meninggal dalam dinas. Prijanto Senior bukan orang sembangan, karena dalam usia 20-an telah berhasil menggondol Ph.D. dari Inggris. Tentulah suaminya membuat ibunya Edwin yang sedang hamil sedih sekali. Edwin akhirnya lahir dengan kelainan jantung bawaan.

Walau pun masa kecilnya didera penyakit, otak Edwin sangat encer, dan hebatnya dia tidak sombong, juga sangat penolong. Mungkin karena Edwin terbiasa menjaga ibu, maka dia jadi cepat dewasa, kebapakan.

Kisah menjadi makin tragis ketika Edwin wafat hanya beberapa bulan setelah menjadi S.Kom (kalau sampai sini, gue pasti nangis). Almarhum diterima sebagai pegawai P.T. Indosat. Karyawan baru diwajibkan ikut dalam semacam latihan kemiliteran di Purwakarta. Jantungnya nggak kuat... akhirnya Babe wafat menjelang akhir pelatihan. Seluruh Fasilkom (dulu Program Studi Ilmu Komputer) berduka, apalagi ibunya Edwin. Dulu suaminya mati muda dalam tugas, kemudian anak tunggalnya begitu pula.

Pertemuan terakhir saya dengan Babe terjadi di ruang Himiko (Himpunan Mahasiswa Ilmu Komputer) merangkap Musholla, sekarang gudang di sebelah ruangan Pak Toemin. Saat itu adalah beberapa hari menjelang keberangkatannya ke Purwarkarta. Babe yang habis sholat duduk memakai kaos kaki, sambil menceritakan rencananya itu. Ketika saya ingatkan tentang penyakit jantungnya dan bahayanya ikut dalam kegiatan fisik seperti latihan militer, Babe menyatakan kesanggupannya. Dokter yang biasa memantau kondisi Babe mengijinkannya ikut. Selain itu Babe juga sudah mulai latihan jogging di sekitar rumahnya di Tajur, Bogor.

Obrolan pun sampai pada rencananya melanjutkan studi ke luar negeri setelah beberapa tahun bekerja. Kemungkinan ibunya akan diajak, karena kasihan ditinggal sendirian. Sama dengan alasannya mengapa selama kuliah tidak pernah kost, tapi bolak-balik Bogor-Depok: "Kasihan ibu, sendirian."

Yah, Babe. Singkat nian hidupmu. Belum banyak yang Babe hasilkan, walaupun sebenarnya almarhum punya segudang potensi. Tapi ada teladan yang bisa kita ambil dari hidupnya. Bahwa wibawa yang sejati bukan datang dari kesombongan, tapi dari kerendahan hati.


Riri Satria


Mengenang almarhum Edwin Prijanto alias Babe, seorang sahabat yang baik,... ada yang masih ingat (terutama angkatan 88), rumah beliau di Tajur - Bogor sering kita jadikan "markas" kalau jalan-jalan ke Bogor atau Puncak?

Dekat rumah beliau ada bioskop 21, dan sekali-sekalinya saya nonton di sana, bareng-bareng dulu, dan sampai sekarang cuma sekali itu saya nonton di Bogor... saya juga sering nebeng naik Toyota Starlet beliau kalau kita lagi ada acara, terutama kalau mau balik ke Depok... eh, belakangan, mobil tsb ganti dengan Suzuki Carry warna putih... dan yang paling sering, saya meminjam PR-nya Edwin... almarhum nggak terlalu suka kalau kita minjam PR-nya, trus cuma nyalin, katanya seharusnya kita pelajari juga lah, sehingga dia juga percuma meminjamkan... bahkan almarhum sama sekali tidak pelit kalau kita minta diajarin sesuatu...

Beristirahatlah dengan tenang di sisi-Nya, teman yang baik, segala kebaikanmu akan kekal abadi dan kami kenang...

Oni Budipramono

Saya masih ingat ketika pagi itu kita-kita yang di kampus mendengar berita duka tersebut, serta merta semua kuliah hari itu dibatalkan dan mahasiswa semua angkatan serta dosen dan staf berbondong-bondong ke Bogor untuk mengiringi kepergian Babe. Hal ini menunjukkan bahwa beliau sangat dekat di hati semua orang.


Paul Tuanakotta


Saya masing ingat ngobrol-ngobrol bareng dia kalo naik KRL, sempit, pengap tapi masih tetap ceria. Berita kematian beliau memang mengejutkan seluruh kampus. Sampai hampir seluruh mahasiswa dan staff ramai-ramai pergi ke Bogor Jalan raya Tajur sempat macet karena banyak iring-iringan mobil.


Hendranto Nugroho


Iya -- jadi ingat banget... apalagi kemarin aku sempet nemuin buku sewindu FASILKOM... dan ada tentang almarhum Erwin...

Seminggu sebelumnya... masih aku godain tuh.... masih bercakap-cakap... berikutnya udah nganter ke kubur...


Sjaiful Bahri


Peristiwa ini menjadi pelajaran bagi kita semua, setiap orang bisa mengukur standar/ kemampuan fisiknya, kemampuan ini bisa diukur dari pengalaman sehari-hari, bisa dianalisa melalui medical check-up.

Kalau standar-standar seseorang diketahui tidak memenuhi standar-standar diluarnya (perusahaan/ kampus/ lingkungan), mereka lebih baik mengikuti standar pribadinya. Ini bagian dari ikhtiar. Saya juga sering menyarankan ke teman-teman sekerja, kalau merasa pekerjaannya "berat", dan kemampuan fisiknya tidak match, lebih baik banting setir nyari yang lebih ringan, kalau perlu kerja freelance (tidak penuh), walaupun duitnya juga tidak penuh :)

Takdir ditangan Tuhan, tapi manusia disarankan ber-ikhtiar semampu yang ia bisa.


Feryzon Darwis


Sahabatku Edwin... Semoga Engkau Bisa Beristirahat dengan tenang.. Lihatlah betapa kami masih mengenang masa-masa kebersamaan kita.. walaupun itu hanya singkat..

Ya Allah, terimalah sahabatku Edwin disisiMu... Amin...

Kawan semua.. Ada satu hal yang selalu teringat ama gua. Kalo menyebut Edwin (almarhum)... Dia sering sekali terkantuk-kantuk kalo dikelas... Padahal dia duduk paling depan dalam kelas yang jumlah pesertanya maksimal 23 orang... Namun kalo dia tiba-tiba ditanya tentang apa yang diterangin tersebut dia bisa jawab dengan baik...

Hal lain adalah dia jarang sekali menampakkan muka cemberut yang ada selalu tertawa atau paling ga tersenyum... Orangnya bukanlah orang yang selalu serius, malah lebih banyak humornya...

Dan satu hal lagi... Dia nggak pernah memaksakan kehendak pada orang lain... Lebih sering mengalah... Hal ini tercermin dalam kegiatan organisasi... Dia memilih jadi penyeimbang dalam organisasi...

Walau pun sangat taat dalam beragama namun sisi dunianya juga ga kalah..