01 September 2006

Semoga 2024 Lebih Baik? Duh!

(Bertahun-tahun kemudian...)

Tetap saja, masih banyak ditemukan aturan-aturan "wajib" tanpa sanksi yang jelas. 

Semoga 2014 lebih baik... (tidak juga).

Semoga 2019 lebih baik... (tidak juga).

Semoga 2024 lebih baik? Duh!




DISCLAIMER


This is HOW Me Do IT! Grrr... this blog memo is mainly written for OWN PURPOSES. This post is based on "Google There, Google Here, Try That, Try This, Then Ask". Whether this is PLAGIARY or RESEARCH, there has never been a claim that this is an original work, nor is it necessarily the best solution, and not for Scopus consumption :). Please provide feedback, especially if you have alternative explanations. Hopefully, this note will be helpful in the future when you have forgotten how to solve this trivia problem.


DISKLAIMER


INIlah yang KUlakukan! Grrr... memo blog ini terutama ditulis untuk KEPERLUAN SENDIRI. Tulisan ini berbasis "Google Sana, Google Sini, Coba Itu, Coba Ini, Lalu Tanya-tanyi". Entah ini PLAGIAT, entah ini RISET, yang jelas tidak pernah ada klaim bahwa ini merupakan karya asli, serta belum tentu pula merupakan solusi terbaik, serta bukan untuk konsumsi Scopus :). Mohon kiranya memberikan tanggapan, terutama jika memiliki solusi alternatif. Semoga catatan ini akan bermanfaat di masa mendatang, saat sudah lupa cara menyelesaikan masalah trivia ini.

Qapla!

22 November 2005

Ubuntu Breezy 5.10: Notebook Touch Pad Synaptics

Cara modifikasi /etc/X11/xorg.conf agar touchpad tidak sensitif;
ubah MaxTapTime dan MaxTapMove menjadi 0.

Section "InputDevice"
Identifier "Synaptics Touchpad"
Driver "synaptics"
Option "SendCoreEvents" "true"
Option "Device" "/dev/psaux"
Option "Protocol" "auto-dev"
Option "HorizScrollDelta" "0"
Option "MaxTapTime" "0"
Option "MaxTapMove" "0"
EndSection

revisi 10.10.11-01

16 November 2005

Fiasco "Permintaan UTS Susulan"

Beberapa waktu yang lalu, saya menerima permintaan untuk menyelenggarakan UTS susulan. Mahasiswa yang bersangkutan mengklaim sakit, yang dibuktikan dengan surat dokter. Ternyata terjadi kekeliruan, yaitu nama yang mengajukan ujian susulan, tertukar dengan nama lain.

"Membuat kesalahan" merupakan hal yang wajar-wajar saja. Namun setiap kekeliruan tersebut, seharusnya diikuti dengan sebuah analisa (sederhana): "Kesalahan Terjadi Dimana?". Dengan demikian, pada masa mendatang (diharapkan) akan mengurangi atau pun menghilangkan terjadinya jenis kesalahan serupa.

Yang perlu ditekankan di sini ialah PENTINGNYA penggunaan PROSEDUR YANG BAKU (Standard Procedure). Seharusnya setiap kegiatan dalam sebuah organisasi dibuatkan prosedur bakunya. Berikut merupakan beberapa usulan yang perlu dipertimbangkan lebih lanjut.

Pengajuan ujian susulan agar dilakukan secara tertulis, umpama menggunakan email atau menggunakan buku log. Permintaan tersebut agar dilampirkan bukti-bukti secukupnya (umpama surat dokter). Jika permintaan diterima, petugas menghubungi Dosen secara TERTULIS. Demikian selanjutnya, semua aktifitas agar ada arsipnya. Jika terjadi kekeliruan dikemudian hari, penelurusan balik dapat dilakuan secara lebih mudah. Keputusan penerimaan dan penolakan pengajuan ujian susulan harus dilakukan secara terpusat oleh bagian "administrasi". Jika keputusan ini didelegasikan kepada dosen, akan ada potensi pembuatan keputusan yang tidak seragam. Lagi pula, mahasiswa yang mengajukan ujian susulan tidak perlu pontang-panting mengejar SEMUA dosen penyelenggara ujian.

Pembuatan prosedur baku biasanya tidak dapat diselesaikan dalam satu iterasi. Sangat mustahil jika mengharapkan proses pembuatan prosedur ini terselesaikan dalam satu kali "rapat staf". Terakhir, perlu juga dipersiapkan prosedur baku untuk mengajukan keberatan. "Appeal Procedure" yang baku dan adil akan diperlukan untuk mengantisipasi penyelesaian kasus jika ada pihak yang merasa dirugikan.

revisi 10.10.11-01

26 Oktober 2005

deborphan dan debforster

deborphan -- untuk mencari lib nganggur
debfoster -- untuk mencari ketergantungan paket

revisi 10.10.11-01

12 Agustus 2005

Negara Orang Tolol (berikut Birokratnya)?

Dwi Keondoro melalui komik Panji Koming (Kompas Minggu), baru-baru ini menyindir bahwa kita ini TOLOL! Bukan hanya sekali, bahkan menyindirnya hingga DUA kali! Sedemikian tololkah kita ini? Apakah ada masalah dengan kurikulum kita.


Dengan asumsi, bahwa mungkin masalah dengan kurikulum pendidikan dari SD hingga PT -- baik secara konseptual, mau pun implementasinya, kira-kira kiat apa yang bisa dilakuan oleh para pendidik di lapangan (Dosen, Guru, Dst)?

Sebagai pembukaan: berapa diantara para pembaca yang berbahagia ini, merupakan pendidik? Jika ya, apa yang anda anggap dewasa ini sebagai masalah dalam proses didik-mendidik yang anda jalankan? Jika tidak, apa yang anda "pantau", yang merupakan masalah? Semoga 2014 lebih baik.

revisi 10.11.07-02