28 Agustus 2008

Diambang Ramadan

''Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan ke atas umat-umat yang sebelum kamu, semoga kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa.'' (Q2:183)

Ramadan hampir datang, marhaban! Secara tradisional, akan ada edaran ''standar'' dari para bos seperti berikut:
(1) "Atas nama Ramadan", jam kerja kantor diperpendek. Padahal ayatnya berbunyi, bahwa kita disuruh puasa, dan bukan untuk merengek meminta keringanan.
(2) ''Atas nama Ramadan'', yang tidak berpuasa diminta untuk menghormati yang berpuasa. Apa tidak terbalik? Kasihan mereka yang tidak puasa: banyak tempat makan yang tutup, dan kalau buka, mesti sembunyi-sembunyi.
(3) ''Atas nama Ramadan'', ada acara buka bersama, plus ceramah kyai kondang, menggunakan anggaran kantor lagi.
[...]
Belum lagi, banyak tempat maksiat ditutup sementara ''Atas nama Ramadan''.

revisi 10.10.28-01

5 komentar:

  1. Wah pak Ibam terlalu :-D

    No. 1 Setuju pada point yang disampaikan.

    No. 2 Yang sekarang banyak kejadian itu pak, orang yang puasa disuruh menghormati yang tidak puasa, artinya, kalau makan minum itu biasa saja, anggap saja cobaan dan godaan. Coba saja lihat, sekarang nggak pakai acara tutup atau buka pakai gordin. Sekarang blak-blakan.

    No. 3 Ciri khas kantor pemerintah pak. Swasta teh nggak gitu. Kalaupun ada anggaran, sudah dipertimbangkan untung ruginya.

    Selamat menunaikan ibadah puasa ramadhan wak haji :-D

    BalasHapus
  2. Lisensinya GNU kan pak?
    Saya kopi ke scele yaa..

    BalasHapus
  3. Rivai,
    berikan saya hadits atau Quran yang menyebutkan setiap orang harus menghormati bulan puasa dengan ikut berpuasa?

    Saya sudah pernah mencari dan saya tidak menemukan. Saya pernah bertanya pada ustadz di Brisbane dan dia juga tidak bisa menyebutkan. Malah dia mengelak, "tetapi di masa Rasulullah, semua orang beriman sehingga tidak perlu dibuat peraturan".. Halah.. lalu bagaimana dengan orang-orang munafik? Dianggap beriman juga?

    Aku malah pernah menemukan Hadits yang kurang lebih isinya "yang tidak berpuasa juga membantu yang berpuasa" dan itu ucapan saat Rasulullah melihat seorang tua renta berpuasa dibantu oleh orang-orang lain yang tidak berpuasa. Dari mana beliau tahu orang-orang tersebut tidak berpuasa? Karena non-muslim? Rasulullah gak menyebut mereka non-muslim. Karena hamil? Rasulullah gak menyebut mereka hamil. Pasti mereka melakukan hal yang tidak dilakukan orang puasa, yakni 'makan'.

    Ada pula, hadits yang menyebutkan, saat berpuasa dan diajak berkelahi, katakan "aku berpuasa" dan hindari perkelahian.

    Coba lihat kelakukan "muslim manja" seperti FPI. Kalau tindakan membuka restoran terang-terangan dianggap sebagai tidak menghormati bulan puasa, apa yang harusnya dilakukan seorang Muslim? Tentu saja, menghindar.. karena dia berpuasa. Bukannya ramai-ramai menggerebek dan meminta menutup.


    Lagipula,
    tujuan orang berpuasa adalah melatih kita agar menjadi orang bertaqwa. Apakah taqwa itu? Atsar sahabat rasul menyatakan "taqwa itu seperti melintas di jalan penuh duri. Kita akan berhati-hati agar pakaian tidak tersobek oleh duri". Bukan dengan membabat habis duri-duri tersebut.

    Bukankah di Quran sendiri dinyatakan bahwa "keadilan tersebut adalah dekat dengan taqwa"?


    Kalau umat Muslim bermanja-ria, menuntut setiap tempat godaan ditutup, menyerang setiap restoran yang buka karena dianggap tidak menghormati bulan puasa, menurutkan hawa nafsunya, bukankah berarti sudah tak berarti puasa mereka? Bukankah berarti mereka sudah melupakan hakikat puasa tersebut?

    Seharusnya, bila hati kita terbakar karena kita sedang puasa sementara ada orang lain dengan nyaman puasa, katakanlah "saya sedang puasa" dan hindarilah pertengkaran.

    Bukankah selama ini, di luar bulan puasa, kita juga sering enak-enakan makan-minum di restoran mahal seperti Starbucks sementara berapa orang miskin yang mengelus dada karena untuk makan tiga hari sekali pun mereka tak punya uang? Maka jadikan pengalaman itu kesempatan buat merasakan penderitaan mereka yang tidak bisa menikmati hal yang halal karena keterbatasan mereka.


    Persoalan rumah hiburan dan hal-hal lain, ketentuan tersebut harusnya berlaku sepanjang tahun. Bukan dengan rumus "menghormati bulan puasa".

    BalasHapus
  4. Weleh... lebih panjang komentar dari pangkal threadnya! Setidaknya, kita dapat memulai dengan pencatatan hal-hal yang terasa aneh... Seperti halnya yang tercatat di blog ini...

    BalasHapus
  5. Ah dik Kunderemp ini nggak baca komentar saya dengan tuntas.

    "Rivai, berikan saya hadits atau Quran yang menyebutkan setiap orang harus menghormati bulan puasa dengan ikut berpuasa?"

    Lha ini yang ngomong siapa dik ???

    Lihat deh komentar saya, saya nggak pernah bilang begitu dan tidak pernah edit. Jangan-jangan dik kunderemp lihat komentar ditempat lain :-)

    Saya diskusi japri sama mas Puji dan saya katakan, di Bekasi ini nggaka da tuh istilah tutup warung untuk menghormati bulan puasa. Yang ada malah makan minum diluar sebagaimana biasanya.

    Kesimpulannya ? Saya nggak pernah bilang apa yang dik kunderemp sampaikan.

    BalasHapus