15 April 2012

Kisah Titanic

Setelah 100 tahun kapal RMS Titanic tenggelam (14 April 1912-2012), masih saja terjadi kesimpang-siuran perihal apa yang terjadi pada malam tersebut. Dari semua penjelasan yang ada, kelihatannya penjelasan Tim Maltin merupakan yang paling masuk akal, yaitu: BUKAN keteledoran, namun semata karena pengetahuan sains dan teknologi pada saat tersebut belum memungkinkan untuk memprediksi musibah seperti itu. Pada malam tersebut cerah penuh bintang dan tanpa bulan. Wajarlah, jika diasumsikan bahwa jarak pandang dapat mencapai puluhan kilometer kedepan. Kenyataannya, RMS Titanic baru saja masuk ke dalam zona arus dingin dari utara, yang menyebabkan jarak pandang hanya mencapai beberapa ratus meter. Benda yang jauh akan tetap terlihat, namun menjadi samar-samar/ berubah bentuk akibat ilusi optik.
Kekeliruan asumsi jarak pandang berakibat sangat fatal. Pertama, SOP pada waktu tersebut ialah, pada malam yang cerah penuh bintang, kapal memang diizinkan dengan kecepatan penuh. Diasumsikan bahwa gunung es akan terlihat dari jarak puluhan kilometer, sehingga ada cukup waktu untuk menghindar.
Kedua, kapten serta kru RMS Titanic merupakan yang terbaik pada zamannya. Sang kapten tidak dalam keadaan mabuk, serta tidak dibawah tekanan untuk segera tiba di New York. Kenyataannya, kapten juga memilih rute yang paling AMAN (JAUH) untuk menghindari gunung-gunung es.
Ketiga, RMS Titanic tidak dibangun menggunakan bahan berkualitas rendah. Penggunaan paku keling yang sebagian dipasang secara manual (tanpa mesin), merupakan hal yang biasa pada waktu itu.  Menurut perhitungan mekanika, memang tidak akan ada kapal yang dapat menahan benturan gunung es sebesar itu.
Keempat, radio telegram memang bukan untuk komunikasi navigasi. Radio tersebut dioperasikan oleh swasta untuk mengirim dan menerima SMS para penumpang kapal. Maklum pada waktu itu, para penumpang belum memiliki BBM untuk berkomunikasi dengan dunia luar.
Kelima, kapal Californian yang berada "dekat" lokasi musibah, tidak menyangka bahwa yang terlihat ialah RMS Titanic. Kondisi jarak pandang yang disebut di atas menyebabkan perubahan bentuk siluet kapal. Masing-masing mencoba untuk mengirim kode morse lampu, namun masing-masing lawan tidak melihat kode morse tersebut karena tersamar dengan langit yang penuh bintang cerah.
Keenam, jumlah perahu sekoci memang sesuai dengan SOP yang ada. Diasumsikan bahwa lebih aman membangun kapal yang "anti tenggelam" dari pada melengkapi kapal dengan banyak sekoci.

PS: BBM/Blackberry Messenger merupakan merek dagang dari RIM/Research In Motion.