20 Juli 2012

Kisah Sirene Ngaheong

Alkisah sebuah bangunan Fabrik tua, yang telah berdiri sudah lama sekali. Kalau penduduk sekitar ditanyai perihal Fabrik tersebut, biasanya akan menjawab "Fabrik itu sudah berdiri sebelum aku lahir, bahkan sebelum orang tuaku lahir..." Jika pada awalnya sekeliling Fabrik merupakan tanah dan ladang kosong, kini telah berkembang beberapa perkampungan.  Setiap pukul 7:00 pagi tepat, sirene Fabrik berbunyi kencang, menandakan akan dimulainya sebuah shift baru. Suara sirena terdengar nyaring  hingga puluhan kilometer dari Fabrik: "Ngaheong" menurut istilah penduduk setempat.

Para pendatang pun berkembang-biak memenuhi perkampungan sekeliling Fabrik tersebut. Perkampungan pun berkembang, dengan didirikan fasilitas seperti balai desa, pasar, puskesmas, dan sekolah. Ada sebuah tradisi yang unik yang berkembang sekeliling Fabrik: semua sekolah memulai pengajaran setelah sirene pagi "Ngaheong".

Secara turun temurun, damai dan tenteram, setiap pagi sekolah dimulai setelah terdengar sirene pagi "ngaheong". Tidak ada yang tahu sejak kapan. Kalau penduduk ditanyai perihal "ngaheong", biasanya akan menjawab "Ngaheong itu sudah sejak sebelum aku lahir, bahkan sebelum orang tuaku lahir..." Bisa jadi sejak pertama kali setiap sekolah dibuka, standar waktu yang digunakan ialah WIN (Waktu Indonesia Ngaheong). No problemo....

Sekolah-sekolah terletak sekitar 20 km dari Fabrik. Berdasarkan teori rambatan suara (Fisika), sebetulnya "Ngaheong" pukul 07:00 pagi baru akan terdengar di sekolah-sekolah sekitar satu menit kemudian. Dengan kata lain sejak dulu kala, tradisi WIN itu berselisih sekitar satu menit dengan WIB yang digunakan diluar kampung tersebut.

Masalah yang timbul ialah, apakah sekolah akan tetap memanfaatkan WIN yang sudah turun temurun atau beralih menggunakan WIB? Hal ini menimbulkan perpecahan, sehingga ada sebagian murid masuk kelas jam 07:00, dan sisanya menyusul setelah mendengan sirene "Ngaheong".

Semua pihak ngotot dengan argumentasinya masing-masing. Pihak tradisional berkukuh, bahwa sejak awal sekolah berbasis WIN, sehingga kalau pun mau dikonversi ke WIB, harus tetap mulai jam 07:01. Pihak lainnya yang menyebut diri dengan "Seikodiah", mengatakan bahwa "Ngaheong" terjadi jam 07:00, sehingga sekolah seharusnya dimulai pada jam 07:00 tersebut. Nama kelompok "Seikodiah" berasal dari merek sebuah jam buatan Jepang. Menurut kabar terakhir, hingga kini, masalah ini belum terpecahkan.

Catatan:
Saya (FI, 2179007) pernah tinggal di jalan Taman Sari (dekat Unisba) saat kuliah di Institut Tikungan Balubur. Setiap pagi mendengarkan sirene fabrik Kina "Ngaheong".