22 Agustus 2014

BPJS: Bikin Pasien Jadi Susah


BPJS (=Bikin Pasien Jadi Susah) Kesehatan dapat dikatakan merupakan jelmaan ASKES (=Asal Sabar Kembali Sehat :-) lama dengan steroid. Jika sebelumnya jumlah peserta ASKES sangat terbatas, kini setiap warga negara (Indonesia dan Asing) wajib menjadi anggota BPJS Kesehatan. P.T. ASKES Indonesia berubah menjadi BPJS Kesehatan pada tanggal 1 Januari 2014 lalu.

Dari pengalaman, layanan BPJS Kesehatan ini jauh lebih tidak menyenangkan / lambat dibandingkan layanan saat masih menjadi PT AKSES Indonesia. Azas yang digunakan BPJS Kesehatan ialah "Pasienlah yang harus pontang-panting kesana-kemari mengurus administrasi rujukan."

Berikut catatan antrian saat berurusan dengan sistem BPJS:

Antrian 1: PUSKESMAS PAMULANG (2 jam). Dari Puskesmas mendapatkan rujukan spesialis ke RSUD TangSel.

Antrian 2: RSUD TangSel (2 jam). Karena spesialis terkait tidak ada di RSUD, maka dirujuk ke spesialis di RSBB Husada.

Antrian 3: RSBB Husada (3 jam). Setelah mendaftar, menunggu spesialis dengan urutan nomor 11. Karena di RSBB Husada tidak ada peralatan untuk tindakan, maka dirujuk ke RS Marinir Cilandak. Seharusnya, petugas BPJS di RSBB Husada yang membuatkan rujukan. Namun, petugas RSBB Husada (bukan BPJS) memberikan petunjuk yang MENYESATKAN, yaitu mempersilakan untuk meminta rujukan di RSUD TangSel.

Antrian untuk mengambil nomor antrian di RSUD TangSel jam 06:00 pagi.
Antrian 4: RSUD TangSel (2 jam). Ini seharusnya tidak terjadi, jika pegawai RSBB Husada mendapatkan sosialisasi yang lebih baik perihal BPJS. Mengantri untuk mendapatkan nomor antrian sejak jam 6:00 pagi, padahal petugas baru akan datang jam 7.00. Setelah mendapat nomor antrian, menunggu hingga 8:00 saat layanan BPJS dimulai. Eh, ternyata disuruh kembali ke RSBB Husada.

Antrian 5: RSBB Husada (30 menit). Karena masih pagi, proses pembuatan rujukan berjalan cukup cepat.

Antrian 6: RS Marinir Cilandak (2 + 2 jam). Menunggu ekstra 2 jam, karena lampu padam. Lalu menunggu 2 jam di loket Apotik.

Tindakan: RS Marinir Cilandak (30 menit). Setelah antri lebih dari 13 jam (tidak termasuk perjalanan), akhirnya tindakan medis selama 30 menit.

Ya begitulah, tinggal di negara dimana penguasanya menyangka, rakyat punya banyak waktu luang untuk mengantri...