06 Maret 2010

Mahabharata

Mahabharata -- epik dinasti Bharata -- lebih dari sekedar kisah sebuah dinasti besar. Ini merupakan kisah moral yang menempatkan kebenaran di atas kekeluargaan dan kekerabatan. Semakin besar ukuran sebuah keluarga, semakin sulit mengharapkan kekompakan yang solid. Kisah Mahabharata bisa jadi menjadi sebuah pembenaran, bahwa sah-sah saja jika terjadi friksi dan fraksi dalam sebuah keluarga. Pelajaran apa saja yang kita dapatkan dari kisah Mahabharata? Banyak sekali, umpamanya:
  1. Janganlah Berjudi: Judi dapat membuat orang kehilangan akal sehat dengan menggadaikan apa saja, termasuk istri dan saudara.
  2. Janganlah Bersumpah/ Berjanji. Kalaupun terpaksa, bersumpahlah dengan "Syarat dan Ketentuan Berlaku".
  3. Dan seterusnya (bersambung).

DISCLAIMER


This is HOW Me Do IT! Grrr... this blog memo is mainly written for OWN PURPOSES. This post is based on "Google Here, There, and Everywhere". Whether this is PLAGIARY or RESEARCH, there has never been a claim that this is an original work, nor is it necessarily the best solution, and not for Scopus consumption :). Please provide feedback, especially if you have alternative explanations. Hopefully, this note will be helpful in the future when you have forgotten how to solve this trivia problem.


DISKLAIMER


INIlah yang KUlakukan! Grrr... memo blog ini terutama ditulis untuk KEPERLUAN SENDIRI. Tulisan ini berbasis "Google Sana, Google Sini, Coba Itu, Coba Ini, Lalu Tanya-tanyi". Entah ini PLAGIAT, entah ini RISET, yang jelas tidak pernah ada klaim bahwa ini merupakan karya asli, serta belum tentu pula merupakan solusi terbaik, serta bukan untuk konsumsi Scopus :). Mohon kiranya memberikan tanggapan, terutama jika memiliki solusi alternatif. Semoga catatan ini akan bermanfaat di masa mendatang, saat sudah lupa cara menyelesaikan masalah trivia ini.

This is the Way!

1 komentar:

  1. Mahabarata dan Ramayana adalah dua kisah ceritera yang sangat bagus. Senada dengan kisah-kisah lain dari jaman dahulu, seperti La Galigo di daerah Bugis(yang dikatakan sebagai kisah terpanjang di dunia ini) dan Gilgamesh di negeri Irak jaman dahulu.

    Tentu saja kisah-kisah moral bisa ditemukan di ceritera-ceritera tersebut. Dan selain kita bisa mendapatkan kebahagian dari membaca keindahan tutur kata dan keanggunan daripada alur cerita, kita juga bisa mendapatkan pelajaran moral.

    Hanya saja, yang menjadi kritik saya, seluruh kisah-kisah tersebut dibangun diatas landasan politis feodal, yang mana mengagung-agungkan para kesatria maupun brahmana(kelas pendeta).

    Hal ini, bagi saya adalah sesuatu hal yang teramat sangat buruk, karena:
    1. Pembedaan masyarakat menjadi berbagai kelas dengan hak-hak politis dan ekonomis yang berbeda, bahkan jauh berbeda,
    2. Hukum yang berlaku mengatur berbagai ragam hak untuk para kesatria dan brahmana tanpa begitu memperdulikan hak-hak orang-orang diluar kelas tersebut,

    Karena itulah, kita harus sadar, bahwa sekalipun ceritera itu indah dan adakalanya mengajarkan moral yang mendalam, tetapi, dibalik itu semua tersimpan sebuah pandangan mengenai struktur masyarakat yang sama sekali tidak ideal, yang cenderung memberikan hak berlebih kepada satu kelas dan mengurangi hak kelas yang lain.

    Tetapi, tentu saja hal ini tidak saja kita dapat didalam feodalisme beserta ceritera-ceriteranya. Hal ini juga bisa kita dapatkan di hampir seluruh struktur masyarakat. Itulah yang menjadi kuncinya, sekalipun seluruh ketidakadilan itu ada disegala lini dan segala struktur, apakah kita sadar dan mau menghindari hal-hal seperti itu? Apakah kita mau menentangnya?

    Bahkan, sadar atau tidak, kita bahkan memandang pembantu rumah tangga kita dengan sangat rendah. Nah itulah feodalisme dalam diri kita. Enyahkanlah itu.

    BalasHapus